Labels

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 08 Mei 2012

vertikultur selada


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
Selada (Lactuca sativa L.) merupakan sayuran daun yang berumur semusim dan termasuk dalam famili compositae. Selada tumbuh baik di dataran tinggi, pertumbuhan optimal di lahan subur. yang banyak mengandung humus, pasir atau lumpur dengan pH tanah 5-6,5. Di dataran rendah kropnya kecil-kecil dan cepat berbunga. Waktu tanam terbaik pada akhir musim hujan, walaupun demikian dapat juga ditanam pada musim kemarau dengan pengairan atau penyiraman yang cukup.
Menurut jenisnya, selada ada yang dapat membuat krop dan ada yang tidak. Jenis yang tidak membentuk krop daun-daunnya berbentuk ”rosete”. Warna daun hijau terang sampai putih kekuningan. Selada jarang dibuat sayur, biasanya hanya dibuat salad dan lalapan       
Tujuan dari sistem ini tentu saja menghemat ruang dengan kemudahan beberapa variasi tanaman.
Pengembangannya dapat dilakukan di lahan pekarangan rumah, dan tidak memerlukan tempat yang relatif luas. Sistem ini sangat cocok dikembangkan diwilayah perkotaan yang rata-rata penduduknya hanya memiliki luasan sisa lahan perumahan yang sempit. Asal syarat utama dari kehidupan tanaman adalah sinar matahari tercukupi, hal tersebut bukan menjadikan halangan untuk mencoba…satu hal lagi yang penting, sistem penanaman vertikultur ini sangat fleksibel penempatannya, selain mudah dan relatif murah (dibandingkan sistem tanam konvensional pada tanah) juga dianggap ramah lingkungan.

1.2.Tujuan Penulisan

1.      Sebagai laporan praktikum system perbanyakan tanaman hortikultura
2.      Untuk menambah wawasan tentang menanam selada dengan cara vertikultur.


BAB II
STUDI PUSTAKA
Jenis Tanaman Yang Dapat Dibudidayakan Secara Vertikultur
Pada sistem budidaya vertikultur tidak semua jenis tanaman dapat dibudidayakan, namun terbatas pada tanaman yang bentuk dan ukurannya sesuai dengan media tanam.
Tanaman yang sesuai dibudidayakan dengan cara vertikultur adalah jenis tanaman sayur-sayuran, tanaman hias, dan tanaman obat-obatan yang memiliki perakaran yang dangkal dan memiliki berat yang relatif ringan sehingga tidak akan terlalu membebani media tanam vertikultur pada pertumbuhan tanaman tersebut (Nitisapto dan Asmara, 1993)
Sebagai salah satu contoh tanaman sayuran yang dapat dibudidayakan secara vertikultur adalah tanaman selada (Lactuca sativa var.  Crispo) yang merupakan jenis sayuran daun.Tanaman selada memiliki karakteristik yang menunjang penanamannya dalam teknik vertikultur.  Tanaman selada memiliki sistem perakaran akar tunggang dan cabang-cabang akar yang menyebar ke semua arah tanaman pada kedalaman yang dangkal.  Batang tanaman selada berukuran pendek berbuku-buku tempat kedudukan daun sehingga beratnya juga tidak akan terlalu membebani media tanam(Eulis umu safira,2011).
Selada belum banyak membudaya pengembangannya, tetapi prospek ekonominya cukup cerah.  Permintaan komoditas selada terus meningkat, diantaranya dari pasar swalayan, restauran-restauran besar, ataupun hotel-hotel berbintang lima.  Selada berpotensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena disamping kondisi iklimnya cocok untuk tanaman selada, juga memberikan keuntungan yang memadai bagi pembudidayanya.  Seperti halnya sayuran daun lainnya selada umum dimakan mentah sebagai lalapan dan dibuat salad atau disajikan dalam berbagai masakan Eropa maupun Cina.  Selain sebagai bahan sayuran yang cita rasanya khas, selada mengandung gizi cukup tinggi, terutama sumber mineral.
Komposisi Gizi  Selada :
  • Kalori  15,00 kal
  • Protein 1,20 gr
  • Lemak 0,20 gr
  • Karbohidrat     2,90 gr
  • Kalsium           22,00 mg
  • Fosfor  25,00 mg
  • Zat Besi (Fe)   0,50 mg
  • Vitamin A       540,00 S.I
  • Vitamin B1     0,04 mg
  • Vitamin C       8,00 mg
  • Air       94,80 gr
Mengkonsumsi selada dan berfungsi ganda, yakni sebagai bahan pangan bergizi dan berguna untuk mendinginkan perut.  Hippocrates termasuk salah seorang yang menganjurkan selada sebagai makanan pemeliharaan kesehatan tubuh manusia.
  








BAB III
BAHAN DAN METODA

Pembuatan Instalasi Vertikultur
              Membuat instalasi vertikultur hidroponik  untuk ukuran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan bahan yang tersedia, alat dan bahan yang diperlukan diantaranya:
§ Pipa PVC ukuran 4 inci
  Gergaji Besi
  Pipa PVC ukuran ¾ inci
§ Ploksock 4 inci
  Letter L 4 inci
  Pompa air 125 W
  Letter T 4 inci
  Unit timer 10 menit
  Letter L ¾ inci
  Bibit tanaman
  Letter T ¾ inci           
  Meteran
  Water moor 1 inci
  Kasa parabola
  Stop keran
  Arang sekam
  Nozzle
  Water moor ¾  inci
  Lem paralon
  Ploksock 1 inci ke ½ inci

              Pertama-tama buatlah potongan pipa PVC berukuran 4 inci sesuai dengan kebutuhan sebanyak beberapa buah. Potongan pipa PVC peruntukan media tanam tiang vertikal dibuatkan lubang-lubang diameter ¾ inci dengan jarak vertikal 12 cm setiap lingkaran 4 lubang untuk cincin dari pipa PVC diameter  ¾ inci untuk menyimpan tanaman. Kemudian sambungkan pada setiap Letter-L dan T sehingga membentuk bejana berhubungan.Lakukan pada mulut Letter-T yang menghadap ke atas untuk disambungkan dengan pipa PVC vertikal sebagai media tanam.Buat saluran pemasukan dari bawah menggunakan pipa PVC yang dihubungkan dengan unit pompa air listrik.

Persiapan Bibit
Bibit yang digunakan adalah bibit jenis tanaman yang memiliki perakaran yang dangkal dan memiliki berat yang relatif ringan yang telah cukup umur setelah semai dengan ukuran dan tinggi yang seragam.

Penanaman
Penanaman dilakukan serempak untuk mendapat pertumbuhan tanaman yang seragam. Penanaman pada teknik vertikultur disesuaikan dengan lubang tanam yang telah dibuat.  Benih yang telah diseleksi diambil dan dimasukan pada lubang bangunan vertikultur yang telah disiapkan berukuran ½ inci.

Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman dimulai dengan dilakukannya penyulaman bibit yang tumbuhnya terlambat atau mati. Penyulaman dilakukan pada umur 5 hari setelah tanam sampai 7 hari setelah tanam.  Penyulaman ini dilakukan agar mendapatkan keseragaman tumbuh tanaman.
Pemeliharaan selanjutnya yaitu pemupukan dan penyiraman  dengan foliar application (pupuk dilarutkan dalam air dan disuntikkan ke dalam media tumbuh tanaman) menggunakan nutrisi tanaman dengan dosis 1 kg nutrisi per 200 litter larutan.  Pemberian nutrisi dilakukan setiap hari minimal 12 jam per hari untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi tanaman setiap harinya.
Dilanjutkan dengan pengendalian hama dan  penyakit sebagai langkah untuk melindungi keberlangsungan pertumbuhan tanaman.  Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan cara mekanis yaitu dengan membuang hama atau tanaman yang terkena penyakit.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgywGzQHUK6Pq1ytrV3taLQzCMFLeK9KxZHMH_CEOLFaBKWwMrhh-Q8pt8fWSgdw7vNIYStO1aMpfpmhC_yl6P9UXJZ0HGsiFxEs6TtdTD3N0cr6TVqyQ3tSai7-9_QRpg2vq4cv-nz-kqh/s320/100_5744.jpg
2.1.Selada
Selada (Lactuca sativa L.) merupakan sayuran daun yang berumur semusim dan termasuk dalam famili compositae. Selada tumbuh baik di dataran tinggi, pertumbuhan optimal di lahan subur yang banyak mengandung humus, pasir atau lumpur dengan pH tanah 5-6,5. Di dataran rendah kropnya kecil-kecil dan cepat berbunga. Waktu tanam terbaik pada akhir musim hujan, walaupun demikian dapat juga ditanam pada musim kemarau dengan pengairan atau penyiraman yang cukup.
Menurut jenisnya, selada ada yang dapat membuat krop dan ada yang tidak. Jenis yang tidak membentuk krop daun-daunnya berbentuk ”rosete”. Warna daun hijau terang sampai putih kekuningan. Selada jarang dibuat sayur, biasanya hanya dibuat salad dan lalapan

2.1.1.      Budidaya selada konvensional
Benih Selada
Jenis selada yang banyak dibudidayakan adalah :
  1. Selada mentega disebut juga dengan selada bokor atau selada daun, bentuk kropnya bulat tapi lepas.
  2. Selada (heading lettuce) atau selada krop, bentuk krop bulat dan lonjong, kropnya padat atau kompak.
  3. Kebutuhan benih + 400 gram biji per hektar.
Pengolahan Lahan Selada
Lahan diolah terlebih dahulu dengan cangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur. Selanjutnya dibuat bedengan dengan arah membujur dari Barat ke Timur, untuk mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan 100-120 cm, tinggi 30 cm dan panjang 15 m. Jarak antar bedeng 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomite, 3-4 minggu sebelum tanam, dosis 1,5 t/ha, kapur diaduk rata dengan tanah permukaan bedengan.
Persemaian Tanaman Selada
Biji dapat langsung ditanam di lapangan, tetapi lebih baik melalui persemaian. Sebelum disemai, benih direndam dalam larutan Previcur N dengan konsentrasi 0,1 % selama + 2 jam kemudian dikeringkan. Benih disebar merata pada bedengan persemaian dengan media berupa campuran tanah dengan pupuk organik (1:1), kemudian ditutup dengan alang-alang atau jerami kering selama 2-3 hari. Sebaiknya bedengan persemaian diberi naungan/atap. Setelah berumur 7-8 hari, bibit dapat juga dipindahkan kedalam bumbunan yang terbuat dari daun pisang/pot plastik dengan media yang sama.
Penanaman Tanaman Selada
Setelah berumur 3-4 minggu atau sudah memiliki 4-5 helai daun tanaman dapat dipindahkan ke bedengan yang sudah dipersiapkan dengan jarak tanam 20 x 20 cm atau 25 x 25 cm, tergantung varietas semakin tinggi varietas yang ditanam semakin lebar jarak tanamnya.
Pemupukan Tanaman Selada
Tiga hari sebelum tanam diberikan pupuk organik (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 2-4 kg/m2. Dua minggu setelah tanam lakukan pemupukan susulan Urea 150 kg/ha (15 gr/m2) supaya pemberian pupuk lebih merata maka pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan secara larikan disamping barisan tanaman. Selanjutnya dapat ditambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 10 dan 20 hari setelah tanam.
Penyiraman dilakukan tiap hari sampai selada tumbuh normal, kemudian diulang sesuai kebutuhan. Bila ada tanaman yang mati, segera disulam, penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 10 hari. Penyiangan dilakukan sesuai dengan pertumbuhan gulma.
Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Selada
Hama yang sering ditemui adalah ulat daun, belalang, dan nyamuk kecil bila keadaan lembab. Pengendalian hama dapat dilakukan secara mekanik yaitu dipungut dengan tangan, jika terpaksa gunakan pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya. Penyakit yang sering menyerang tanaman selada yaitu bercak hitam daun dan cacar daun.
Panen dan Pasca Panen Tanaman Selada
Tanaman selada dapat dipanen setelah berumur + 2 bulan, dengan cara mencabut batang tanaman atau memotong pangkal batang. Tanaman yang baik dapat menghasilkan + 15 ton/ha. Selada cepat layu sehingga untuk menjaga kualitasnya agar kelihatan tetap segar dan kualitasnya baik,segera setelah panen lakukan dengan merendam bagian akar tanaman dalam air dan pengiriman produk ketempat tujuan secepatnya.
2.2. Vertikultur

Dalam bahasa aslinya yakni Bahasa Inggris, arti "verticulture" gabungan dari dua suku kata, vertical dan culture. Secara umum memberikan pengertian vertikultur adalah budidaya tanaman dengan cara bertingkat atau bersusun, memanfaatkan ruang ke arah atas. 
                                               
Tujuan dari sistem ini tentu saja menghemat ruang dengan kemudahan beberapa variasi tanaman.
Pengembangannya dapat dilakukan di lahan pekarangan rumah, dan tidak memerlukan tempat yang relatif luas. Sistem ini sangat cocok dikembangkan diwilayah perkotaan yang rata-rata penduduknya hanya memiliki luasan sisa lahan perumahan yang sempit. Asal syarat utama dari kehidupan tanaman adalah sinar matahari tercukupi, hal tersebut bukan menjadikan halangan untuk mencoba…satu hal lagi yang penting, sistem penanaman vertikultur ini sangat fleksibel penempatannya, selain mudah dan relatif murah (dibandingkan sistem tanam konvensional pada tanah) juga dianggap ramah lingkungan.

Karena pada dasarnya sistem ini merupakan cara bertanam, maka cara yang diterapkan pun tidak berbeda jauh dengan penanaman konvensional (menanam horizontal) pada bidang tanah. Namun yang patut diperhatikan adalah segala sesuatu yang disesuaikan dengan sifat tanaman yang akan dibudidayakan, misalnya:

1. Pemilihan lokasi tanam,
Dalam hal ini memerlukan banyak sinar matahari atau sebaliknya, ini didukung dengan kemudahan dalam fleksibilitas pemilihan tempat dari sistem ini.

2. Komposisi media tanam,
Antara pasir, tanah, kerikil dan humus/pupuk kandang.

3. Perawatan tanaman,
Secara umum adalah penyiraman, pemupukan, penyulaman jika diperlukan. 

Teknik pertanian vertikultur  seperti ini biasanya untuk membudidayakan tanaman semusim atau berumur pendek, seperti sayuran. Aneka sayuran yang dapat ditanam antara lain seledri, selada, kangkung, bayam, kemangi, sawi, caisim atau kailan. Pohon cabai, tomat, atau terong, juga mudah sekali tumbuh dengan cara ini. Jenis tanaman obat-obatan atau tanaman hias pun layak untuk dicoba.


BAB IV
PEMBAHASAN
3.1. VERTIKULTUR DI BATANG BAMBU
1.Siapkan bambu  berdiameter sekitar 10 cm sepanjang 1,5 m
2.Lubangi dengan hati-hati pembatas bagian dalam antar-ruas bambu menggunakan linggis
3. Buat lubang-lubang yang berdiameter 1,5-2 cm di bagian sisi bambu secara bertingkat dan berselang seling sehingga tanaman tidak saling menutupi.
4.Lubang pertama dibuat dengan jarak 12,5 cm dari ujung bambu. Lubang tanam yang lain dibuat dengan jarak 25 cm antara lubang satu dengan lubang lainnya sehingga didapatkan dua belas lubang tanam.
5.Setelah itu, masukkan media tanam yang telah disiakan ke dalam bambu hingga penuh
6.Model ini dapat diangkat dan dipindah-pindah ke tempat yang inginkan walaupun agak berat.
3.2. BAHAN YANG DIPERLUKAN
1.  Pipa paralon atau bambu
2.  Gergaji besi
3.  Penggaris atau meteran
4.  Bor atau Pahap
5.  Kayu bulat
6.  Pupuk kompos/kandang
7.  Tanah gembur
8.  Kotak semai untuk benih

3.3. VERTKULTUR DI PIPA PARALON
1. Siapkan pipa paralon berdiameter 4 inci sepanjang 1,5 m
2.  Buat lubang berdiameter 1,5-2 cm di sisi pipa secara bertingkat dan berselang-seling sehingga tanaman tidak akan saling menutupi.
3.  Lubang pertama dibuat pada jarak 10 cm dari ujung paralon. Lubang berikutnya dibuat dengan jarak 25 cm antara lubang satu dengan lubang lainnya sehingga didapatkan dua belas lubang tanam setiap pipa.
4.  Bagian bawah pipa paralon ditutup dengan dop PVC setebal 5 cm
5.  Pipa paralon yang sudah ditutup dop diletakkan cetakan semen yang berlubang agar dapat berdiri kokoh,
6.  Setelah itu, paralon diberi media tanam yang telah disiapkan hingga penuh
7.  Vertikultur sudah siap ditanami. Model ini dapat dipindah-pindah sesuai dengan tempat yang inginkan.

MEDIA TANAM
Media tanam yang digunakan dapat berupa campuran pasir, tanah gembur, pupuk kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1 dan bisa ditambahkan pupuk urea. Selain pupuk kompos, pupuk yang dapat digunakan adalah pupuk kandang.
CARA BERTANAM VERTIKULTUR
1. Masukkan media tanam dari ujung paralon/setiap lubang paralon

2. Buat lubang tanam
3. Semai benih yang perlu disemai di tempat lain
4. Tanamlah tanaman hasil semai atau tanaman mini
5. Lakukan penyiraman yang cukup dan lakukan pengontrolan terhadap hama dan penyakit.
Untuk tanaman yang tidak membutuhkan banyak air dan banyak sinar matahari, dapat ditanam di lubang atas dan tanaman yang membutuhkan banyak air di bagian bawah. Lakukan penambahan media (kompos atau tanah gembur) di setiap lubang apabila media tanahnya berkurang.
PEMUPUKAN
Sebaiknya pupuk yang digunakan adalah pupuk organik, seperti pupuk kompos atau pupuk kandang. Agar buah tidak mudah rontok, dapat digunakan KCl sebanyak 1 sdt atau 1 sdm tergantung ukuran tanaman. Sebaiknya KCl diberikan setiap 5 – 6 bulan sekali.
PENGENDALIAN HAMA
Hama yang umum menyerang adalah belalang dan ulat daun. Insektisida yang dapat digunakan salah satunya adalah Diazinon 60 EC, dengan dosis 2 cc/liter air.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar